Cucu kesayanganku Ican, kamu sudah bertumbuh dewasa, dan ini saatnya kamu mengetahui apa yang kakek ketahui. Hanya kamu satu-satunya orang yang tahu rahasia ini dan hanya kamu juga satu-satunya orang yang kakek pilih, karena orang yang kakek yakin bisa memecahkan semua petunjuk ini hanyalah kamu, dan kakek yakin itu. Masih banyak yang kita belum ketahui di Dunia ini, masih banyak rahasia yang tersimpan, masih banyak ciptaan-Nya yang belum kita ketahui.
Semua ini berawal ketika kegemaran kakek dengan sejarah, dimana kakek menemukan sebuah kebahagiaan dan keindahan yang ada di muka bumi ini, di tanah air kita Indonesia. 11 tahun yang lalu ketika kakek mencari pengetahuan sejarah tentang salah satu suku di Papua barat.
Seperti biasa hal sebelumnya, pertama kakek meneliti kehidupan orang-orang disana, adat istiadat suku itu dan banyak lagi. Dengan hidup sesederhana mungkin dan modal sesederhana mungkin kakek tetap berjuang untuk mendapatkan sejarah apa yang belum diketahui oleh manusia sebelumnya. Penelitian kakek bertahun-tahun tidak sedikitpun membuahkan hasil. Kakek hanya mendapatkan pengetahuan tentang kehidupan dan adat suku-suku di Papua barat tersebut.
Malam itu hujan sangat deras, tidak satupun orang yang berada di luar rumah, karena ketua adat mengatakan ini adalah kemarahan dewa, dengan menuangkan hujan yang deras tapi hanya ada satu awan putih di tengah awan hitam yang menurunkan hujan tersebut, ketika itu terjadi orang-orang tidak boleh keluar rumah. Mungkin ini kesempatan kakek untuk mendapatkan salah satu sejarah yang belum pernah ada diketahui oleh umat manusia.
Hujan masih terus turun, beberapa pohon berjatuhan, dan beberapa pohon terbakar tersambar petir. Kakek melihat semua orang didalam rumah, termasuk kepala suku yang menceritakan tentang kemarahan dewa tadi sudah tertidur lelap, karena mereka semua sangat ketakutan. Kakek yang belum tidur pada saat itu memutuskan untuk keluar rumah untuk mengetahui seperti apa itu satu awan putih di tengah awan hitam tersebut.
Kakek mempersiapkan beberapa alat penelitian dan kakek juga membawa kamera untuk mengambil foto awan tersebut. Setelah semua siap kakek diam-diam keluar rumah, agar tidak ada yang mengetahui karena kakek sudah melanggar salah satu adat mereka. Perlahan kakek membuka pintu, kakek lewat pintu belakang, tiba kakek di luar rumah dan sebentar saja badan kakek sudah basah kuyup.
Karena merasa aman kakek mulai berlari menuju pohon besar yang tidak jauh dari rumah kakek tempatkan tadi. Kakek berdiri di dekat pohon tersebut dan melihat ke atas mencari dimana satu awan putih itu. Dua menit kakek melihat keatas, tapi tidak menemukannya. Leher kakek sudah pegal karena melihat keatas tadi. Kemudian kakek duduk sejenak di bawah pohon tersebut, beberapa menit kemudian Kepala suku terbangun dan melihat keadaan cuaca melalui jendela. Akan tetapi Kepala suku juga melihat ada seseorang berada di luar rumah dan berani-beraninya menentang adat suku mereka, seseorang itu tidak lain adalah kakek.
Kepala suku langsung teriak, Kakekpun terkejut dengan teriakan Kepala suku tersebut. Bukan sekedar teriakan, teriakan yang lebih menuju dengan kemarahan, dan membangunkan semua orang-orang untuk menyaksikan ada orang yang melanggar adat mereka.
Kakek langsung berlari menuju hutan, hutan yang terlarang juga oleh suku tersebut. Berlari dan terus berlari, hanya itulah yang kakek lakukan pada saat itu. Ditengah berlari Kakek teringat cerita Kepala suku tentang hutan terlarang yang muncul di saat hujan kemarahan dewa tersebut. Setelah jauhnya kakek lari, kakek berhenti diantara dua pohon kembar yang akarnya menyatu erat. Pohon kembar yang misterius dan di sanalah tempat kakek menemukan satu titik awan putih di antara awan hitam.
Tidak mau membuang kesempatan, kakek langsung memotret awan itu, dan entah bagaimana ketika kakek sedang memotret awan tersebut pohon tersebut menjadi sebuah gerbang, gerbang emas yang dipenuhi cahaya yang sangat terang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar